Di meja makan, Klaylo kembali terlihat gusar. Kali ini sesekali dia merasakan ada seseorang menendang-nendang kakinya. Dira yang tepat di hadapannya mulai melihat gelagat aneh, mengarahkan pandangannya pada Klaylo. Dengan santainya Klaylo melanjutkan sarapan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, hanya dia yang belum tuntas menghabiskan makanan di piring. Dia bisa menebak ulah iseng temannya yang duduk disamping Dira.
“Aauuu,” Dira merintih pelan, kakinya diinjak.
“Dira, maafkan! Aku tidak sengaja,” Klaylo salah tingkah, akhirnya dia terpancing juga. Niatnya ingin membalas ulah usil Die, malah kaki Dira menjadi korban.
“Klaylo, apa yang kamu lakukan?” Sahut Die, dengan riang merayakan keberhasilan.
“Nak Klaylo, ada apa dengan kalian?” Sambil tersenyum, Nenek Gris ikut bersuara, sejak tadi dia sudah melihat tingkah aneh ketiga anak itu, bahkan sejak kedatangan Klaylo di meja makan.
“Die, awas kamu!” Klaylo berbisik, memberi kepalan tangan pada Die.
“Klaylo genit, nek!” timpal Die, sambil menunjuk jari telunjuk ke arah Klaylo.
Sontak suasana senyap hilang, kini menjadi riang. Semua tertawa kecuali Paman Deyma yang masih jengkel dengan Klaylo. Dia hanya menatap ibunya yang kian senja. Dia tidak pernah melihatnya tertawa sebahagia itu sebelumnya, ada yang berbeda sejak kedatangan tiga pemuda itu di kediamannya.

